SUB TEMA : SELF DRIVING

Tentu kita bertanya, apa yang dimaksud dengan self driving?

Menjelajahi kehidupan berarti bertarung menghadapi tantangan dan perubahan seperti seorang pengendara yang berani mengambil resiko. Kadang kita tergores, berbenturan dengan kendaraan lain. Dan kalau kecelakaan kitalah yang diadili bukan penumpangnya. Sebaliknya, kalau menjadi penumpang kita boleh mengantuk, tertidur, terdiam, tidak perlu tahu arah jalan, bahkan kita tidak perlu merawat kendaraan sama sekali.

Kita semua adalah pemegang tanggung jawab terhadap hidup kita sendiri, sewaktu lahir tanggung jawab Allah titipkan kepada orangtua sampai pada saat dewasa tanggung jawab dikembalikan kepada kita. Allah pinjamkan tubuh (kendaraan) dan mentalitas (driver/passenger) untuk mengantarkan setiap manusia menuju impiannya, dan pemegangnya bisa memilih untuk menjelajahi kehidupan dengan penuh tantangan sebagai driver atau diam saja sebagai passenger.

Dalam diri terdapat mentalitas atau jiwa pembawa diri itu, yang bisa dibedakan menjadi dua kategori mental yaitu mentalitas driver dan mentalitas passenger. Tadi kita sudah sepakat bahwa diri (self) sebagai kendaraan, maka fisik harus terus dipelihara. Kesehatan itu penting, tetapi tidak cukup. Tubuh itu harus dilatih kelenturan dan ketangkasannya. Dia perlu diberi berbagai keterampilan hidup yang membuatnya tangkas dan diterima oleh masyarakat sekelilingnya. Mentalitas pun bisa dilatih baik integritas, keberanian, maupun kejelian

Perbedaan mentalitas driver dan passenger:

Mentalitas driver.

  1. Mandiri, gigih.

Contoh: Program kontrak belajar yang diterapkan di SMA Doa Bangsa bertujuan untuk memperkuat karakter kemandirian peserta didik. Dengan sistem kontrak belajar peserta didik dituntut bertanggung jawab terhadap kesepakatan yang telah dibuat dalam bentuk kontrak belajar, salah satu bentuk tanggung jawab adalah dengan mempelajari pokok bahasan minimal satu hari sebelum mata pelajaran dilaksanakan. Tujuan mempelajari pokok bahasan tersebut adalah untuk memperkaya pemahaman dengan jalan mencari referensi lain di perpustakaan atau sumber-sumber lain. Sehingga, begitu kita mempelajari pokok bahasan tersebut di kelas, kita sudah memiliki gambaran awal mengenai bahasan tersebut. Pada akhirnya proses KBM akan lebih aktif dan dinamis, serta proses transfer ilmu berlangsung dua arah.

  1. Suka hal-hal baru, berpikir kreatif dan inovatif.

Contoh: Program kontrak belajar yang diterapkan di SMA Doa Bangsa bertujuan untuk merangsang minat peserta didik untuk mempelajari hal-hal baru. Dengan sistem kontrak belajar peserta didik dituntut berpikir kreatif dan inovatif, misalnya dalam mencari referensi. Semakin kita berpikir kreatif dan inovatif maka hampir bisa dipastikan kita akan mendapat lebih banyak informasi. Hal tersebut tentu saja akan memperkaya khasanah pemikiran dan menjadikan pemahaman kita lebih utuh. Apabila kita tertarik pada hal-hal baru, berpikir kreatif dan inovatif maka hal tersebut dikenal dengan istilah out of the box.

  1. Cara berpikir fokus pada “solusi”.

Contoh: Ketika menghadapi masalah dalam memahami pokok bahasan, sebaiknya fokus kita tidak pada mendefinisikan masalah, tapi lebih pada penyelesaian masalah dan mencari pendekatan-pendekatan pemecahannya. Misalnya setelah kita mempelajari pokok bahasan tertentu kita masih belum paham. Kita bisa mencari solusi dengan jalan mencari referensi lain di perpustakaan atau sumber-sumber lain, berdiskusi bersama teman, berdiskusi bersama guru mata pelajaran di kelas atau pada sesi program khusus. Sehingga, kita bisa memahami pokok bahasan tersebut dengan baik.

  1. Adaptif dalam menghadapi perubahan.

Contoh: Program kontrak belajar yang diterapkan di SMA Doa Bangsa bertujuan untuk memperkuat karakter kemandirian peserta didik. Dengan sistem kontrak belajar peserta didik dituntut bertanggung jawab serta adaptif dalam menghadapi perubahan terkait sistem pembelajaran. Salah satu bentuk tanggung jawab dan sikap adaptif adalah dengan menyesuaikan diri terhadap prosedur baru yang tentunya berbeda saat kita di SMP, saat di SMP kita menerima pelajaran dengan metode yang kurang melibatkan peserta didik, sehingga peserta didik terbiasa menerima kesimpulan-kesimpulan dari pokok bahasan tersebut. Nah, sekarang di SMA Doa Bangsa dengan adanya kontrak belajar yang menekankan aspek kemandirian, mendorong peserta didik untuk memahami bagaimana pokok bahasan tersebut disimpulkan dan bahkan disimulasi untuk menemukan kesimpulan-kesimpulan yang baru, melalui pencarian referensi dan sumber-sumber lainnya. Keberhasilan hal tersebut sangat ditentukan oleh proses adaptasi kita.

Mentalitas Passenger

  1. Kurang kemandirian dan cepat menyerah.

Dampak: Jika tingkat kemandirian kurang dan cepat menyerah dijadikan sebagai mentalitas kita, maka hal tersebut akan berdampak kepada; bukan hanya program sekolah yang tidak berjalan namun juga karakter kemandirian sebagai salah satu tujuan dari diselenggarakannya pendidikan tidak akan terbentuk. Sehingga kita dengan mengikuti pendidikan ini bertujuan untuk menjadi pribadi yang terus berkembang ke arah manusia yang paripurna menjadi seakan sia-sia.

  1. Dikendalikan oleh kehidupan “rutin”, menjadi autopilot.

Dampak: Jika kita terjebak mengikuti program kegiatan sekolah dan pembelajaran sebagai rutinitas, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang dapat mengasah tingkat kecerdasan emosi dan intelektual kita. Sehingga pada akhirnya kita akan terjerumus menjadi pribadi yang dangkal.

  1. Cara berpikir fokus pada “masalah”.

Dampak: Jika kita lebih fokus mendefinisikan masalah maka kita akan terus berada dalam pusaran masalah tanpa solusi. Sehingga kemungkinan terburuknya kita menjadi orang yang paling menyedihkan karena selalu berharap dikasihani dan mendapat perhatian atas permasalahan-permasalahan kita.

  1. Mudah frustasi ketika suatu keadaan berubah tiba-tiba.

Dampak: Hal tersebut dikarenakan kurangnya percaya diri, juga tidak menghargai potensi yang kita miliki. Hal itu akan berdampak, paling tidak, hilangnya momentum yang akan menempatkan kita satu langkah dibelakang orang lain. Karena pada hakikatnya setiap perubahan adalah kesempatan kita untuk melompat jauh ke depan, hal tersebut bisa diraih oleh orang yang pertama melihatnya sebagai peluang dan orang yang paling cepat beradaptasi.

Dari penjelasan di atas, kita dapat menganalisa mentalitas seperti apakah yang kita miliki? Mental seorang driver yang mau berpikir dan berani mengambil resiko atau mental passenger yang hidupnya ikut-ikutan. Kesimpulan ini bukanlah hasil akhir, mentalitas kita saat ini merupakan tolok ukur kita untuk berubah ke arah lebih baik tentunya. Dengan pemahaman ini kita dapat mengklasifikasikan dimana posisi mentalitas kita sekarang? Hal yang paling mendasar yang harus dipahami bahwa kita semua memiliki potensi dan kemuan besar untuk menjadi driver yang handal. Untuk itu, mulai saat ini harus menanamkan dalam diri kita:

  1. Disiplin diri.

Contoh pembentukan disiplin diri adalah apel pagi. Tujuan diselenggarakannya apel pagi adalah sebagai perlambang kesiapan kita dalam menghadapi hari, menumbuhkan sikap disiplin, meningkatkan karakter positif, serta memelihara kecintaan terhadap tanah air. Apabila kita ingin menjadi driver yang handal maka harus memanfaatkan apel pagi sebagai sarana menempa diri bukan menganggapnya sebagai rutinitas belaka.

  1. Inisiatif dan daya tahan.

Tolok ukur inisiatif dan daya tahan akan terlihat dengan Doa Bangsa Controlling System. Banyaknya kegiatan yang bisa diikuti akan disesuaikan dengan tingkat inisiatif dan daya tahan yang kita miliki. Passenger akan berkesimpulan bahwa semakin banyak kegiatan yang diikuti maka akan dianggap memiliki tingkat inisiatif dan daya tahan yang tinggi. Padahal anggapan yang demikian akan menjerumuskan kita untuk cenderung memporsir diri di atas kemampuan yang dimiliki. Sehingga akan berdampak negatif terhadap diri sendiri. Tetapi sebaliknya bagi seorang driver akan melihat kegiatan mana saja yang bisa memberi manfaat untuk menggali potensinya sehingga bisa berprestasi.

  1. Kemampuan beradaptasi.

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa salah satu faktor keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah kemampuan beradaptasi. Seorang driver akan terus mengasah kemampuan beradaptasinya, seperti halnya menebang pohon, seorang passenger akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menebang, sedangkan seorang driver akan memanfaatkan sebagian besar waktunya untuk mengasah gergaji. Dengan modal gergaji yang tajam tentu saja kita dapat menebang pohon lebih cepat.

  1. Kemampuan melihat dan mendengar.

Dalam kaitan mengasah gergaji tadi, salah satu yang dapat meningkatkan kemampuan adaptasi kita adalah ketajaman analisa dalam menilai situasi dan kondisi. Dimana  kualitas suatu analisa ini ditentukan oleh kemampuan melihat dan mendengar sebagai bahan bakunya. Karena hanya dengan kemampuan melihat dan mendengar yang baik kita akan memperoleh informasi yang akurat, informasi yang akurat inilah yang dapat menjadikan analisa kita semakin tajam.

  1. Menentukan sasaran dan mengambil keputusan.

Berdasarkan hasil analisa tentu akan mendapatkan berbagai pilihan dan kemungkinan dalam mencapai tujuan. Hal tersebut akan bermanfaat untuk menentukan sasaran dan mengambil keputusan dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Semakin sering kita menentukan sasaran berdasarkan proses analisa yang baik, maka kecerdasan intelektual  akan lebih berkembang. Selanjutnya, semakin sering kita mengambil keputusan maka tingkat kecerdasan emosional kita akan lebih matang.

  1. Seni berpikir.

Tahapan untuk menjadi driver yang sudah dijelaskan di atas, jika dipandang hanya sebagai suatu proses akan menggiring kita berpikir mekanis seperti yang dikatakan oleh Karl Marx bahwa proses berpikir merupakan proses benda. Hal ini tentu saja tidak sejalan dengan visi SMA Doa Bangsa “ Dalam menghasilkan civitas yang berkarakter”. Sehingga proses yang bersifat mekanis tersebut untuk menghasilkan karakter harus diberi sentuhan kemanusiaan. Sehingga seorang driver yang baik akan memperlakukan proses berpikir sebagai seni, perlakuan tersebut bukan hanya memberikan nilai estetika pada setiap tahapannya, namun kita akan terus bereksplorasi dengan berbagai pendekatan yang senantiasa diperbaharui. Seni berpikir bukan hanya bertujuan untuk memberikan kepuasan tetapi dapat menggugah atau memberikan inspirasi.

Disiplin dibentuk melalui latihan, maka penting bagi orang-orang yang ingin bertransformasi dari passenger menjadi driver untuk segera memulainya. Bagaimana kita memulainya? Mulai datang lebih awal ke sekolah, mulai berbaris lebih awal untuk apel pagi, mengerjakan tugas lebih awal, karena orang yang memulai lebih dulu akan mendapatkan waktu persiapan lebih panjang sehingga ketika orang lain mulai mengikuti langkah kita, kita sudah berada pada tahapan mahir, lebih dikenal, dan dipercaya.

Mulailah saat ini juga, jangan sekali-kali kita menggunakan kata “besok”, “nanti”. Segera mulai dari hal-hal kecil dan bertahap, satu tugas selesai pada setiap periode semuanya dilakukan dengan disiplin.

Kesampingkan segala keterbatasan, “saya tidak pintar”, “saya tidak punya cukup waktu”, “saya tidak punya bakat”. Orang dengan mimpi besar mempunyai strategi dalam hidupnya yang diurai menjadi langkah-langkah kecil yang terkendali. Dia terbiasa membaca peluang, risiko dan segala masalah.

Nah, sekarang apa yang akan kita lakukan untuk menjadi driver yang handal?

Prosa karya Dewi Lestari cukup menginspirasi kita semua ..

Salju Gurun (1998)

Di hamparan gurun yang seragam, jangan lagi menjadi butiran pasir. Sekalipun nyaman engkau ditengah impitan sesamamu, tak akan ada yang tau jika kau melayang hilang.

Di lingkungan gurun yang serbaserupa, untuk apa lagi menjadi kaktus. Sekalipun hijau warnamu, engkau tersebar di mana-mana. Tak ada yang menangis rindu jika kau mati layu.

Di lanskap gurun yang mahaluas, lebih baik tidak menjadi oase. Sekalipun rasanya kau sendiri, burung yang tinggi akan melihat kembaranmu di sana-sini.

Di tengah gurun yang tertebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil ketika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekedar bergerak dua inci.

Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau … berbeda.

Orang yang berdisiplin dan menjadi driver handal cenderung:

  1. Gembira dalam menjalankan kegiatan
  2. Fokus dan konsentrasi
  3. Mencoba lagi dan lagi, dan selalu ada hal-hal baru yang menarik perhatiannya
  4. Tidak putus asa, dan bila jatuh segera bangkit kembali
  5. Mengabaikan tekanan dari orang lain yang menghambat
  6. Memilih aktivitas produktif daripada destruktif
  7. Mampu mengendalikan amarah

Berlatihlah menjadi seorang driver:

  1. Tetapkan sasaran
  2. Pelajari aturan-aturannya
  3. Mulai pilah perilaku kita, untuk perilaku yang sudah sesuai terus tingkatkan dan eksplorasi. Sedangkan untuk perilaku yang belum sesuai segera sempurnakan
  4. Jadilah manusia bertanggung jawab
  5. Manajemen “deadline”
  6. Jadikanlah gaya hidup

Semoga materi ini dapat memandu proses pengembangan diri kita selanjutnya.

Daftar Pustaka

Kasali, Rhenald. (2014). Self Driving: Menjadi Driver atau Passenger. Jakarta Selatan. Penerbit Mizan.

Lestari, Dewi. (2014). Filosofi Kopi. Yogyakarta. Penerbit Bentang.

Munandar, Aris. (2016). Manifesto Ke-3 Untuk Perubahan. Sukabumi. Makalah yang tidak dipublikasikan.